MenaklukkanSifat Iri Hati. (By: Bht. Kusalasarano). Ayasā'va malaṁ samuṭṭhitaṁ, taduṭṭhāya tam'eva khādati Evaṁ atidhonacārinaṁ, saka kammāni nayanti LetakKebahagiaan adalah Di Hati. " Yang namanya kaya (ghina') bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina' adalah hati yang selalu merasa cukup. " (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. SaṁyuttaNikāya. Kelompok Khotbah tentang Māra. 4.7. Tidur. Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, di Taman Suaka Nibbanaadalah kebahagiaan yang tertinggi. Cerita terjadinya syair ini: 9. (205) Setelah mencicipi rasa penyepian dan ketentraman, maka ia akan bebas dari duka-cita dan tidak ternoda, serta mereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini: 10. (206) Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu Kisah"Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha" Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhatta, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu [] wJUOk0. XV. KEBAHAGIAAN 1. 197 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci. Cerita terjadinya syair ini… 2. 198 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit; di antara orang-orang yang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. Cerita terjadinya syair ini… 3. 199 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Cerita terjadinya syair ini… 4. 200 Sungguh bahagia hidup kita ini apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki. Kita akan hidup dengan bahagia bagaikan dewa-dewa di alam yang cemerlang. Cerita terjadinya syair ini… 5. 201 Kemenangan menimbulkan kebencian, dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang penuh damai akan hidup bahagia. Cerita terjadinya syair ini… 6. 202 Tiada api yang menyamai nafsu; tiada kejahatan yang menyamai kebencian; tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan khandha; dan tiada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada Kedamaian Abadi’ nibbana. Cerita terjadinya syair ini… 7. 203 Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi. Cerita terjadinya syair ini… 8. 204 Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi. Cerita terjadinya syair ini… 9. 205 Setelah mencicipi rasa penyepian dan ketentraman, maka ia akan bebas dari duka-cita dan tidak ternoda, serta mereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini… 10. 206 Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu kebahagiaan, orang akan selalu berbahagia bila tak menjumpai orang bodoh. Cerita terjadinya syair ini… 11. 207 Seseorang yang sering bergaul dengan orang bodoh pasti akan meratap lama sekali. Karena bergaul dengan orang bodoh adalah penderitaan seperti tinggal bersama musuh. Tetapi, siapa yang tinggal bersama orang bijaksana akan berbahagia, sama seperti sanak keluarga yang kumpul bersama. Cerita terjadinya syair ini… 12. 208 Karena itu, ikutilah orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, tekun, patuh dan mulia; hendaklah engkau selalu dekat dengan orang yang bajik dan pandai seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang. Cerita terjadinya syair ini… Buddha bersabda dalam Dhammapada syair 182, Kiccho manussapa?il?bho adalah sangat sulit untuk dapat terlahir sebagai kini berada di alam manusia, yang Sang Buddha katakan sangat sulit untuk mencapainya, maka hendaknya kita harus menggunakan kesempatan yang ada sebagai manusia ini dengan sebaik-baiknya. Kita harus isi lembaran-lembaran hari kita dengan kebajikan-kebajikan, agar semakin usia kehidupan kita bertambah, batin kita pun semakin bijaksana. Kita harus mengkondisikan kelahiran kita ini untuk menuju ke kelahiran yang akan datang di alam yang lebih baik, bukan malah jatuh ke alam-alam rendah. Agar kita bisa menuju kelahiran kita di alam yang lebih baik, maka diperlukan jasa-jasa kebajikan. Kalau belum bisa melakukan kebajikan yang lebih besar dan tinggi, mulailah dari yang dasar yaitu adalah kebajikan yang paling dasar dari kebajikan yang lain, dan mempunyai peranan yang sangat penting. Bagaikan pondasi dari suatu bangunan, karena pondasi bangunan adalah tempat berpijak tiang dan dinding dari suatu bangunan, semakin kuat dan kokoh pondasi suatu bangunan, maka semakin kuat dan kokoh juga bangunan tersebut. Begitu juga dengan d?na, semakin kuat kesadaran, ketulusan dan kerelaan seseorang dalam berdana, maka kebajikan-kebajikan yang lain akan mudah untuk dilakukan. D?na berada pada posisi pertama dalam sepuluh kualitas kesempurnaan p?ram? dan tiga landasan dalam perbuatan berjasa puñña kiriy? vatthu D?na, S?la dan Bh?van?. Dan juga merupakan langkah pertama dalam uraian lima ajaran bertahap pañca anupubb?kath? d?na, s?la, sagga, k?m?d?nava, dan nekkham?nisa?sa. Perumpamaan tentang berdanaAgar lebih memudahkan dalam memahami proses berdana secara keseluruhan, uraian berikut akan diberikan perumpamaan ”berdana bagaikan bertani”. Dalam Petavatthu, Khuddaka Nik?ya, Sutta Pitaka dikatakan Penerima d?na bagaikan ladang tanah, objek yang didanakan bagaikan biji benih, Pemberi d?na bagaikan petani, dan hasil yang didapat bagaikan buah dari pohon yang d?na bagaikan ladang TanahTanah ada berbagai jenis, ada yang tandus, ada yang kurang subur dan ada yang subur. Tanah yang subur sangat menentukan pertumbuhan dan juga produktivitas pohon yang ditanam. Rumput-rumput liar, batu-batuan, sampah plastik adalah tiga hal yang dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan pohon. Semakin sedikit kadar dari ketiga hal ini, semakin baik pertumbuhan pohon, karena suplai makanan dari tanah ke pohon dan pertumbuhan akar pohon dapat berjalan dengan baik. Apalagi bila ketiganya tidak ada, maka dapat dipastikan pohon yang ditanam di tanah tersebut akan tumbuh dengan sangat baik dan menjadi pohon yang sangat juga kualitas moral si Penerima, ada yang tidak baik, ada yang biasa-biasa saja dan ada yang baik, dan juga kualitas batin si Penerima sangatlah menentukan hasil dari dàna. Moral yang baik adalah bagaikan tanah yang subur. Rumput-rumput liar, batu-batuan, dan sampah plastik bagaikan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Pengotor batin selalu mencemari kemurnian si Penerima, bagaikan rumput liar, batu-batuan, sampah plastik yang mencemari tanah yang subur. Semakin baik kualitas moral dan kualitas batin si Penerima maka semakin besar pula buah kebajikan akan yang didanakan bagaikan biji benihBiji benih ada yang kualitas tidak baik, kurang baik, dan kualitas yang baik unggul. Kualitas biji akan menentukan kualitas dari pohon maupun buahnya. Bibit yang unggul akan memberikan hasil yang baik, asalkan didukung dengan faktor-faktor pendukung lainnya juga berkualitas baik. Begitu juga biji kualitas rendah akan memberikan hasil yang kurang biji yang ditanam akan mempengaruhi jumlah yang diperoleh, semakin banyak biji yang ditanam semakin banyak pula buah yang diperoleh. Sama halnya dengan barang yang akan diberikan, ada barang yang kurang baik, ada barang yang berkualitas baik. Barang-barang yang diperoleh dari hasil yang sesuai Dhamma adalah barang yang berkulitas baik, tetapi barang yang diperoleh dari hasil pelanggaran Dhamma adalah barang yang tidak berkulitas baik. Jumlah barang yang diberikan bagaikan jumlah biji yang akan ditanam, semakin banyak barang yang diberikan semakin besar hasil yang d?na bagaikan PetaniPetani harus pandai dalam memilih ladang, benih, dan tahu musim dalam menanam benih. Sebelum ladang ditanami benih harus dipersiapkan dengan matang, sebelum biji ditanam harus dipastikan bijinya dalam keadaan baik, tidak berjamur, tidak rusak, tidak dimakan kutu dan sebagainya. Hal ini adalah tahap persiapan sebelum biji ditanam. Demikian juga dengan si Pemberi harus mencari si Penerima yang tepat, mempersiapkan barang yang akan diberikan dengan baik, dan dengan bijaksana mencari waktu yang tepat. Semua ini adalah tahapan sebelum berdana Pubba cetan?.Petani harus mengetahui cara menanam biji dengan baik dan benar. Contohnya biji harus ditangani dengan hati-hati, agar kualitasnya tidak rusak, biji tidak dipendam terlalu dalam atau terlalu rendah, biji ditanam dengan mata tunas tidak terbalik. Sama seperti si Petani, si Pemberi juga harus hati-hati dalam mempersembahkan d?na, disampaikan secara langsung kepada si Penerima, dengan pikiran baik dan rasa hormat yang tulus, ini adalah tahapan saat berdana Muñca cetan?.Setelah bibit ditanam, petani harus merawatnya agar tunas yang baru tumbuh tidak dimakan hama, atau terinjak oleh binatang. Petani harus menyirami, memberi pupuk, dan mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitarnya, sehingga pohon dapat tumbuh dengan baik, menjadi pohon yang subur, kuat dan produktif. Inilah tahap akhir dari perawatan setelah biji ditanam. Si pemberi juga harus bisa menjaga kemurnian moralnya, tidak menyesal atas dana yang sudah diberikan, munculkan rasa bahagia setelah memberi, semua ini adalah tahapan sesudah berdana Apara cetan?.Hasil berdana bagaikan buah dari pohonSemakin pandai sang petani dalam memilih ladang, memilih bibit, menanam bibit dan merawat pohonnya, maka semakin banyak buah yang akan dipanen. Begitu juga dengan si Pemberi, dia yang berdana pada penerima yang baik, memberikan barang yang baik, dan menjaga pikiran yang baik, sebelum berdana, ketika berdana dan setelah berdana, dapat dipastikan jasa kebajikan yang didapatnya akan berdanalah seperti petani yang pandai. Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci,di antara orang-orang yang antara orang-orang yang membenci,kita bebas dari bahagia bila kita hidup tanpa penyakit,di antara orang-orang yang antara orang-orang berpenyakit,kita bebas dari bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan,di antara orang-orang yang antara orang-orang yang serakah,kita bebas dari kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan,kebencian, dan akan hidup bagaikan dewa brahma,yang tinggal di alam kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201Kemenangan menimbulkan permusuhan,yang kalah hidup di dalam damai akan diperoleh,dengan meninggalkan kemenangan dan kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202Tiada api yang menyamai nafsu,tiada kejahatan yang menyamai derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan,tiada kebahagiaan yang menyamai kisah sepasang pengantin baru. 07/203Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan,Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya,akan mencapai Nibbana, kebahagiaan kisah seorang upasaka. 09/205Dengan merasakan penyepiandan kedamaian Nibbana,seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma,akan bebas dari ketakutan dan kisah biksu Tissa. 10/206Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci,hidup bersama mereka akan selalu bertemu dengan orang bodoh,juga adalah hal yang yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh,akan berduka dalam waktu yang bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan,bagaikan hidup bersama bersama orang bijaksana akan membahagiakan,bagaikan hidup bersama sanak karena itu,seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas,pandai, terpelajar, tekun, dan orang yang suci dan bijaksana seperti itu,bagaikan bulan mengikuti peredaran kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa. Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhattha, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran Dhamma. Selama 6 tahun Beliau mengembara di Lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal, belajar ajaran dan metodenya. Beliau hidup dengan keras dan menyerahkan dirinya pada peraturan pertapaan yang keras. Tetapi ia merasa semua latihan itu tidak berguna. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk menemukan kebenaran dengan jalannya sendiri, dan menghindari dua jalan ekstrim dari pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri sendiri. Beliau menemukan “Jalan Tengah”, yang menuju kebebasan mutlak, nibbana. Jalan Tengah ini adalah jalan mulia berfaktor delapan, yaitu Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu sore, duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi Sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai “Penerangan Sempurna” Bodhi-nana atau Sabbannutanana pada usia tiga puluh lima tahun. Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin pengetahuan kelahiran-Nya sendiri yang lampau Pubbenivasanussati-nana. Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus Dibbacakkhu-nana. Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan Patticcasamuppada dalam hal kemunculan Anuloma demikian pula pengakhiran Patiloma. Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan “Empat Kebenaran Mulia”. Empat Kebenaran Mulia adalah kebenaran mulia tentang penderitaan Dukkha Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan Dukkha Samudaya Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang akhir penderitaan Dukkha Nirodha Ariya Sacca, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca. Terdapat juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan “kebenaran mulia” Sacca-nana, pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap “kebenaran mulia” itu Kicca-nana dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap “kebenaran mulia” itu Kata-nana, dengan demikian Beliau mencapai “Sabbannuta-nana” Bodhi-nana dari seorang Buddha. Sejak saat ini Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat jika “Empat Kebenaran Mulia”, dengan tiga aspek tersebut di atas jadi keseluruhan ada 12 cara telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa, dan para brahma, bahwa Beliau telah mencapai “Penerangan Sempurna”, dan menjadi seorang “Buddha”. Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini “Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara siklus kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. O, pembuat rumah, engkau telah ku lihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai “Keadaan Tak Berkondisi” Nibbana. Pencapaian ini merupakan akhir daripada nafsu keinginan.” Hidup ini sangat singkat, usia kita semakin bertambah dan kita pun semakin tua kekuatan menjadi lemah dan kita semakin dekat dengan kematian. Cobalah untuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Sekarang ini adalah kesempatan yang baik, di mana kita jadi manusia dan bertemu dengan Dhamma ajaran Sang Buddha. Kesempatan ini adalah hal yang sulit untuk diperoleh tapi walaupun sulit kita sudah mendapatkannya, oleh sebab itu berjuanglah sungguh-sungguh selama kesempatan masih ada. Setidaknya kita berusaha untuk tidak jatuh ke empat alam menyedihkan. Bergegaslah untuk berbuat kebajikan, karena bagaimanapun hidup di dunia ini tidak kekal. Hidup ini tidak hanya untuk mencari harta, kedudukan, perolehan, dan ketenaran. Meski memiliki kekayaan sebanyak apa pun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hanya kamma baik dan kamma buruklah yang akan setia menjadi pengikut menuju kehidupan berikutnya. Kalau kita memiliki tabungan kamma baik yang banyak, maka akan dapat mengantarkan kita ke alam yang bahagia dan jika tidak, maka kita akan jatuh ke alam menderita. Masihkah kita akan menunda waktu untuk berbuat kebajikan? Kita tidak tahu masih berapa lama sisa kehidupan yang kita miliki di dunia ini, dan kita juga tidak tahu sudah berapa banyak saldo kebajikan yang kita miliki. Oleh karena itu jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah perbuatan baik selama kita bisa. Berbuat baik bisa dengan berdana, menjalankan moralitas, dan mengembangkan batin. Ada sebuah perumpamaan tentang gagak yang malang. Kisah ini di ambil dari isi Sona-Jataka No. 529. Suatu ketika seekor burung gagak bodoh melihat seekor bangkai gajah yang besar yang mengapung dan terbawa arus di sungai Gangga. Diliputi oleh keserakahan, dia berpikir, “itu adalah gudang makanan yang luar biasa, aku akan tinggal di sana siang dan malam dan menikmati kebahagiaan hidup.” Maka, hanya dia yang terbang ke sana dan berdiam di bangkai tersebut. Siang dan malam dia hanya menikmati kebahagiaan hidupnya dengan makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Dia bagaikan mabuk kesenangan, sehingga walaupun di sepanjang pinggir sungai terdapat banyak desa-desa makmur dengan vihara-viharanya yang indah dan megah dilewatinya, dia tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangkai tersebut semakin habis dan dia pun semakin tua serta sulit terbang. Akhirnya, ketika bangkai tersebut sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana, bangkai tersebut tidak dapat lagi menopangnya. Dia berusaha terbang. Dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak olehnya. Di sana, di tengah lautan luas dia terjatuh dan langsung dimangsa oleh para penghuni lautan ganas. Makna dari kisah gagak yang malang ini adalah sebagian manusia yang bodoh dan malas bagaikan si burung gagak bodoh. Mereka terlahir sebagai manusia dengan keadaan yang baik dan berkecukupan bagaikan si gagak yang mendapatkan seekor bangkai gajah yang besar. Mereka siang dan malam selalu berusaha untuk memuaskan nafsu indranya tanpa memedulikan bahwa usianya semakin tua dan semakin dekat dengan kematian. Hal ini bagaikan si gagak yang siang dan malam hanya makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Buddha Sasana dan juga sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk melakukan kebajikan. Hal ini bagaikan si gagak yang tidak menghiraukan desa-desa makmur dengan vihara-vihara yang indah dan megah, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalan-nya waktu, berkah kamma baiknya mereka semakin berkurang, usianya semakin tua, dan kemampuannya dalam berusaha juga semakin berkurang. Hal ini bagaikan si gagak yang mulai kehabisan bangkai, usianya semakin tua, dan sulit terbang. Berada di akhir kehidupan, jauh dari kebajikan, dan kamma baik juga tidak kuat lagi menyokong hidupnya. Hal ini bagaikan si gagak yang sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana dan bangkai tempatnya berdiam juga tidak dapat lagi menopangnya. Pada umumnya, ketika mereka telah tua, di saat menjelang kematian, mereka baru sadar dan menyesal, mereka berusaha bertahan hidup dan melakukan kebajikan, tetapi semuanya telah terlambat. Hal ini bagaikan si gagak yang berusaha terbang dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak. Mereka meninggal dalam kegelisahan dan kebingungan, buah kamma buruk menyerbunya, dan mereka terjatuh ke alam menderita yang sangat-sangat menderita. Hal ini bagaikan si gagak terjatuh di tengah lautan luas dan langsung dimangsa oleh penghuni lautan yang ganas. Demikianlah kebiasaan sebagian besar manusia, kita sering lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Ketika masih muda dan kuat menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dalam kebaikan, ketika tua dan lemah baru ingat betapa pentingnya berlatih, betapa pentingnya kebajikan tapi sayang mereka sudah terlalu tua, mau datang ke vihara sudah tidak bisa berjalan, mau berbuat baik sudah terlalu lemah. Akhirnya hanya bisa menjalani sisa hidup dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada “bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan”.

syair dhammapada tentang kebahagiaan